Sabtu, 08 Oktober 2016

KEBUDAYAAN YOGYAKARTA DAN JAKARTA

Nama saya Tika Adriyanti, disini saya akan menceritakan asal budaya saya. Orang tua saya berasa dari suku dan daerah yang berbeda. Ayah saya berasal dari suku Jawa yaitu  Yogjakarta sedangkan Ibu saya berasal dari suku Betawi yaitu Jakarta.
 Pertama saya akan menceritakan tentang kebudayaan Ayah saya yaitu Yogyakarta. Jogja terkenal mempunyai beragam kesenian tradisonalnya seperti KARAWITAN, musik gamelan dari Jogja ini dimainkan oleh sekelompok Wigaya dan diiringi oleh nyanyian dari Warangguno dan Wiraswara biasanyan disebut dengan “uyon-uyon”, sedangkan kalau tanpa diiringi oleh nyanyian dari Warangguno arau Wiraswara disebut dengan “soran”. Ada lagi kesenian dari Jogja yang merupakan perpaduan anatara berbagai jenis tarian, tembang, drama, dan irama gamelan yaitu LANGEN MANDRA WANARA, cerita dari kesenian ini diambil dari kisah ramayan dengan lebih banyak menampilkan wanara/kera.

KARAWITAN


LANGEN MANDRA WANARA
 Selain keseniannya, Yogyakarta juga terkenal juga permainan tradisionalnya seperti “othok-othok” adalah permaian wajib anak kecil disana baik untuk laki-laki maupun perempuan. Othok-othok yang berbahan kaleng susu, bamboo dan berbagai hiasan dari kertas. Beberapa warga disana menggantungkan hidupnya dari membuat mainan anak tradisional teruma di kampung. Tidak hanya itu, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota yang ramah tamah tetapi sekarang tidak sedikit orang berpikir bahwa “Sekarang Jogja kehilangan kejogjaannya” misalnya soal hilangnya ‘unggah ungguh’ (sopan santun) beberapa anak mudanya.

OTHOK-OTHOK
Yang kedua saya akan menceritakan tentang kebudayaan Ibu saya yaitu Jakarta. Jakarta terkenal dengan makanan khasnya, banyak sekali makanan khas dari Jakarta, mulai dari masakan, kue-kue, hingga minuman. Jakarta juga banyak memiliki peninggalan Warisan Budaya ditengan zaman yang terus berkebang ini. Seperti ONDEL-ONDEL, manekin raksasa ini menjadi ikon dari Kota Jakarta, ondel-ondel biasanya tampil berpasangan, sang pria mengenakan topeng berwarna merah dengan kumis dan cambang serta pakaian berwarna gelap. Sementara si wanita bertopeng putih dengan gincu merah dan menggunakan pakaian berwarna terang. Keduanya dilengkapi hiasan hiasan kepala khas Melayu bernama Kembang Kelapa. Agar bisa dimaikan dan tampak hidup, ondel-ondel dibuat dai rangka bamboo yang memungkinkan orang membawanya dari dalam. Ondel-ondel biasanya ditampilkan pada sebuah arak-arak dalam sejumlah acara, seperti pernikahan atau sunatan, Arak-arakan semakin meriah karena ada irama TANJIDOR (alat music tradisional betawi) yang mengiringinya.

ONDEL-ONDEL

TANJIDOR

Tidak hanya itu, Jakarta juga mempunyai tradisi unik saat puasa di bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah SEDEKAH ABUG atau LIKUR-LIKUR. Tradisi ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Ramadhan, dilakukan di masjid, mushola, atau rumah orang yang sudah dituakan. Diharapkan kegiatan tradisi ini dilakukan untuk mendapatkan ridha ilahi pada bulan suci Ramadhan. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini semakin menghilang. Banyak orang yang malas melakukan kegiatan tahunan ini dengan berbagai alasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar