Nama saya Tika Adriyanti, disini saya akan
menceritakan asal budaya saya. Orang tua saya berasa dari suku dan daerah yang
berbeda. Ayah saya berasal dari suku Jawa yaitu Yogjakarta sedangkan Ibu saya berasal dari suku
Betawi yaitu Jakarta.
Pertama saya akan
menceritakan tentang kebudayaan Ayah saya yaitu Yogyakarta. Jogja terkenal
mempunyai beragam kesenian tradisonalnya seperti KARAWITAN, musik gamelan dari
Jogja ini dimainkan oleh sekelompok Wigaya dan diiringi oleh nyanyian dari
Warangguno dan Wiraswara biasanyan disebut dengan “uyon-uyon”, sedangkan kalau
tanpa diiringi oleh nyanyian dari Warangguno arau Wiraswara disebut dengan
“soran”. Ada lagi kesenian dari Jogja yang merupakan perpaduan anatara berbagai
jenis tarian, tembang, drama, dan irama gamelan yaitu LANGEN MANDRA WANARA,
cerita dari kesenian ini diambil dari kisah ramayan dengan lebih banyak
menampilkan wanara/kera.
KARAWITAN
LANGEN MANDRA WANARA
Selain keseniannya,
Yogyakarta juga terkenal juga permainan tradisionalnya seperti “othok-othok”
adalah permaian wajib anak kecil disana baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Othok-othok yang berbahan kaleng susu, bamboo dan berbagai hiasan dari kertas.
Beberapa warga disana menggantungkan hidupnya dari membuat mainan anak
tradisional teruma di kampung. Tidak hanya itu, Yogyakarta juga dikenal sebagai
kota yang ramah tamah tetapi sekarang tidak sedikit orang berpikir bahwa
“Sekarang Jogja kehilangan kejogjaannya” misalnya soal hilangnya ‘unggah
ungguh’ (sopan santun) beberapa anak mudanya.
OTHOK-OTHOK
Yang kedua saya akan menceritakan tentang kebudayaan
Ibu saya yaitu Jakarta. Jakarta terkenal dengan makanan khasnya, banyak sekali
makanan khas dari Jakarta, mulai dari masakan, kue-kue, hingga minuman. Jakarta
juga banyak memiliki peninggalan Warisan Budaya ditengan zaman yang terus
berkebang ini. Seperti ONDEL-ONDEL, manekin raksasa ini menjadi ikon dari Kota
Jakarta, ondel-ondel biasanya tampil berpasangan, sang pria mengenakan topeng
berwarna merah dengan kumis dan cambang serta pakaian berwarna gelap. Sementara
si wanita bertopeng putih dengan gincu merah dan menggunakan pakaian berwarna
terang. Keduanya dilengkapi hiasan hiasan kepala khas Melayu bernama Kembang
Kelapa. Agar bisa dimaikan dan tampak hidup, ondel-ondel dibuat dai rangka bamboo
yang memungkinkan orang membawanya dari dalam. Ondel-ondel biasanya ditampilkan
pada sebuah arak-arak dalam sejumlah acara, seperti pernikahan atau sunatan,
Arak-arakan semakin meriah karena ada irama TANJIDOR (alat music tradisional
betawi) yang mengiringinya.
ONDEL-ONDEL
TANJIDOR
Tidak hanya itu, Jakarta juga mempunyai tradisi unik
saat puasa di bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah SEDEKAH ABUG atau
LIKUR-LIKUR. Tradisi ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Ramadhan,
dilakukan di masjid, mushola, atau rumah orang yang sudah dituakan. Diharapkan
kegiatan tradisi ini dilakukan untuk mendapatkan ridha ilahi pada bulan suci
Ramadhan. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini semakin menghilang.
Banyak orang yang malas melakukan kegiatan tahunan ini dengan berbagai alasan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar